Cerpen

Lambaian Palma di Pintu Hati

Oleh Admin • 28 Mar 2026

Lambaian Palma di Pintu Hati

Oase Iman di Paroki Sang Penebus

Minggu Palma tahun 2026 ini bukanlah sekadar coretan tanggal merah di kalender bagi saya. Pagi itu, saya melangkahkan kaki menuju Paroki Sang Penebus Sentani, Keuskupan Jayapura. Udara Sentani yang hangat seolah memeluk setiap umat yang datang, bersiap untuk ikut serta mengenang kisah agung Yesus yang masuk ke Yerusalem dengan menunggang seekor keledai sederhana, sekaligus merenungkan kisah sengsara-Nya yang mendalam.

Di area eks puskesmas lama, ribuan daun palma melambai-lambai ditiup angin sepoi-sepoi. Lambaian hijau itu seolah menjelma menjadi ribuan tangan yang menyambut kedatangan Raja Damai. Sinar matahari pagi menerobos celah-celah daun, menciptakan tarian cahaya di atas jalanan setapak, seakan ikut bersukacita.

Pertemuan yang Mekar di Dada

Namun, di tengah keriuhan prosesi gerejawi, saya disadarkan kembali pada hakikat saya sebagai makhluk sosial. Mata saya menangkap bayang-bayang masa lalu yang perlahan mendekat. Kebahagiaan mendadak mekar di dada saya. Saya bertemu dengan rekan-rekan kerja seperjuangan, mereka yang masih setia berbagi peluh di tempat kerja yang sama. Senyum ramah dari Bapak Darius, Bapak Atan, Bapak Anton, dan Saudara Albert seperti embun pagi yang menyegarkan jiwa.

Mercusuar di Masa Lalu: Sang Tokoh Berjasa

Kebahagiaan saya membubung lebih tinggi ketika melihat sosok yang sangat saya hormati. Gurat-gurat pengabdian terlihat jelas di wajahnya, namun matanya masih memancarkan semangat yang sama. Beliau adalah Bapak William Wio, putra Ende, mantan kepala sekolah saya yang kini sudah purna tugas.

Bagi saya, Bapak William bukan sekadar seorang atasan di masa lalu; beliau adalah mercusuar yang sinarnya telah menuntun jalan karier saya hingga saya bisa berdiri tegak seperti sekarang ini. Pertemuan itu adalah sebuah oase di tengah padang gurun kehidupan. Hati saya berbisik lirih penuh syukur, “Terima kasih, orang baik. Semoga Tuhan selalu merangkulmu dengan kasih-Nya, melindungimu, dan memberimu umur yang panjang.”

Sorak Sorai Kenangan yang Bangkit

Sapaan hangat tidak berhenti sampai di situ. Saya juga bertemu dengan Bapak Heri Sirken, kawan lama dari paroki sebelumnya, dan juga beberapa mantan murid SD saya. Melihat mereka, waktu seolah-olah runtuh. Kenangan-kenangan lama bangkit kembali, seperti ombak yang berkejaran di lautan ingatan.

Saat itu, hati saya bersorak gembira, layaknya penduduk Yerusalem yang menyambut Yesus dengan sorak-sorai “Hosana!”. Kehangatan pertemuan-pertemuan ini adalah lambaian palma bagi jiwa saya. Namun, di balik kegembiraan itu, ada sedikit pemberontakan kecil di sudut kalbu. Sebuah kerinduan yang mendalam untuk memutar kembali jarum jam, kembali ke masa-masa indah penuh kesederhanaan itu.

Menatap Fajar dengan Harapan Baru

Tapi apa daya, waktu adalah aliran sungai yang tak pernah mengalir surut. Ia terus bergerak maju, tak kenal kompromi. Akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak boleh terus terpaku pada jejak-jejak di belakang. Saya harus menegakkan kepala, menatap lurus ke depan dengan penuh harapan.

Saya mengakhiri perayaan Minggu Palma ini dengan sebuah doa di hati. Biarlah masa lalu menjadi pupuk bagi masa depan saya, dan biarlah restu serta kasih Tuhan menjadi kompas yang memandu setiap langkah hidup saya. Di Paroki Sang Penebus Sentani hari ini, saya tidak hanya mengenang kisah sengsara Tuhan, tetapi juga merayakan kehidupan yang terus berlanjut.


← Kembali